Setia pada pekerjaan
Dengan tarif Rp 1.000,- untuk setiap penumpang sekali angkut, dan Rp 5.000 - 20.000 untuk sepeda motor ataupun gerobak yang ingin diseberangi, Pak Ridwan mengaku tak pernah bosan dengan usahanya. Usaha getek ini dia geluti sejak 1998 silam atau pasca krisis moneter.
Di daerah itu (Kapuk Muara, Jakarta Utara) dahulunya berjejer hingga lima perahu getek. Sekarang menjadi kosong sama sekali, menyisakan beliau seseorang. Pasalnya, kebanyakan orang lebih memilih naik motor pribadi, memutar menuju jembatan penyebarangan yang letaknya lumayan jauh.
Namun meski begitu, usaha yang digelutinya ini tetaplah dilirik penumpang. Kalau pagi hari selepas subuh, ada beberapa ibu-ibu yang pulang dari pasar dengan menumpang perahunya. Pun begitu saat jam sekolah tiba dan jam pulang. Tidak jarang bergerombol pelajar, dari SD hingga SMA, yang menaiki perahu Pak RIdwan ke seberang.
Meski kadang jengkel, ada saja anak SD atau beberapa pemuda setempat yang membayar hanya Rp 500,- bahkan yang sama sekali tidak bayar. Padahal untuk sekali menyeberang dibutuhkan tenaga yang tidak sedikit dengan fisik kuat supaya tidak terlepas di tengah sungai. Tetapi, beliau selalu bersemangat dalam pekerjaannya itu.
Pernah akhir tahun lalu, ada rombongan mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkenal di Indonesia yang menyewa perahunya hingga seharian untuk dibuatkan sebuah film dokumenter mereka. Alhasil, Pak Ridwan pun kecipratan rupiah yang lumayan besar.
Juga saat beberapa turis bule, entah nyasar kemana, tiba-tiba menyewa perahunya hingga beberapa kali bolak-balik di tempat yang itu-itu saja. Turis yang dipandu seorang warga Indonesia itu, tampak senang memotret kanan kiri sembari tertawa kegirangan, seolah-olah di Jakarta ini adalah Venesia dengan Gondola, sebagai perahu Pak Ridwan. (ang/disarikan dari Kompasiana)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment