Latest Post

Kejayaan perdana bahari Nusantara

Written By Anonymous on May 9, 2012 | 10:14 PM

Kejayaan bahari nusantara, pertama kali ditunjukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Konstruksi kapal mereka saat itu (abad ke-7) terpapar gamblang pada sebelas relief di dinding Candi Borobudur. Di masa pemerintahan kolonial Belanda, Van Erp, seorang ahli arkeologi, sampai menyempatkan waktu khusus mempelajari sebelas relief kapal laut di candi Budha terbesar di dunia ini. 


Ia berkesimpulan bahwa kapal2 itu dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : perahu lesung sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu tanpa cadik.


Sriwijaya, dimasa itu pernah jaya di lautan Nusantara khususnya di wilayah Sumatra sampai Malaya sekarang, adalah karena kebijaksanaannya dalam memanfaatkan "kearifan lokal" yang dimiliki oleh suku Orang Laut yang piawai dalam teknologi pembuatan kapal dan strategi perang laut. Suku Orang Laut mendiami daerah muara sunga-sungai dan hutan bakau di pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, dan pantai barat Semenanjung Malaya. 

Sayang, Sriwijaya hanya negara maritim dan bukan agraris juga, maka ia tak bertahan lama. Ketangguhan agraria dan maritim adalah pilar-pilar utama untuk kejayaan Nusantara.


Kelahiran sang jabang “ROV”

Written By Hitam Putih Blogger on Apr 26, 2012 | 3:34 AM

Secara pasti, kapan pertama kalinya kakek moyang Natsushima dilahirkan, tidak diketahui. Namun demikian, ada dua peristiwa yang secara umum “diyakini” sebagai cikal bakal ROV. Proyek PUV (Programmed Underwater Vehicle), yakni sebuah torpedo yang dibuat oleh Luppis-Whitehead Automobile di Austria pada tahun 1864, dan proyek POODLE, wahana yang dianggap sebagai kemunculan istilah ROV untuk pertama kalinya. Adalah Dimitri Rebikoff, WN perancis, yang pada tahun 1953, membuat wahana bawah air tersebut, dengan fungsi yang masih sangat terbatas untuk kepentingan riset arkeologi.

Selanjutnya, dalam kurun waktu 20 tahun kemudian (1953-1973), 20 wahana bawah air diproduksi oleh berbagai Negara (Amerika, Perancis, Inggris, Finlandia, Norwegia dan Uni Soviet). Jumlah ini bertambah pesat, ketika dalam kurun 1975-1978, 82 wahana bawah air beroperasi. Penyebab dari tumbuh pesatnya wahana ini adalah dikarenakan pada tahun 1974, Negara-negara penghasil minyak bumi yang tergabung dalam OPEC, meningkatkan harga minyak sampai tiga kali lipat. Sebagai akibatnya, gairah pengeboran minyak lepas pantai juga semakin meluap, dan membutuhkan wahana bawah air untuk melakukan survey bawah laut untuk menentukan kandungan minyak.

Bermula dari memesan system wahana bawah air berkamera dari New Jersey-based Vare Co. pada tahun 1957, Angkatan Laut Amerika Serikat selanjutnya mengembangkan teknologi ini untuk berbagai kepentingan, sehingga pada tahun 1958 menghasilkan CURV (Cable controlled Underwater Recovery Vehicle). Keberadaan dan kemampuan CURV ini masih misterius, walaupun dikabarkan bahwa US-Navy sudah memfungsikannya untuk menjinakkan 600 torpedo dan mendukung berbagai aktifitas bawah air lainnya. CURV baru dikenal dunia, setelah ekspose keberhasilannya menemukan bom atom yang sempat hilang di kedalaman 869m di selat Palomares Spanyol dalam kecelakaan pesawat tahun 1966. Jasa besar CURV masih tercatat, ketika pada tahun 1973, berhasil menyelamatkan kru pilot kapal selam Pisces III yang gagal mengambang, di selat Cork, Irlandia, tepat sesaat udara dalam kabin kapal selam habis. Dalam kurun waktu 1958 – 1974, U.S. Navy juga membuat dan mendanai pengembangan delapan ROV lain. Tiga adalah tambahan dan pengganti CURV pendahulunya, dimana yang lain dijadikan wahana untuk teknologi yang lebih lanjut. Dua diantaranya diberi nama TORTUGA dan ANTHRO, yang dibangun oleh Hydro Products, San Diego, California.

Perusahaan California tersebut, dengan pendanaan dari US Navy, mengembangkan TORTUGA, sebuah system wahana bawah air berkamera video, yang didesain sedemikian rupa untuk pemeriksaan jarak dekat pada suatu objek yang berada di wilayah perairan yang tidak bisa diakses manusia. Meskipun aplikasi wahana ini dalam kemiliteran tidak dipublikasikan, kuat dugaan bahwa model ini digunakan US Navy untuk melumpuhkan kapal selam. TORTUGA dibuat dengan pendorong jet air untuk tujuan kecepatan, dan versi lain menggunakan propeller untuk meningkatkan kemampuan maneuver dan responsifitasnya.

Wahana ANTHRO (anthromorphic) menyusul kemunculan TORTUGA. Masih dibuat oleh perusahaan dan sumber dana yang sama, ANTHRO dibangun dengan konsep pergerakan yang disinkronisasikan dengan gerakan kepala operatornya. Di kepala ANTHRO ada seperangkat kamera yang dihubungkan dengan monitor yang dihubungkan ke helm operator. Teknik “sepasang kepala” ini, membuat operatornya harus duduk di kursi yang bisa berputar, dan memakai helm berlayar TV 5 inci. Versi militer dari ANTHRO adalah SCAT (Submersible Cable-Activated Teleoperators) dan disusul dua wahana SNOOPY dengan konsep yang sama, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

Tak ketinggalan, Institut kelautan Uni Soviet, membuat CRAB-4000 pada tahun 1971, yang dibuat dengan menggunakan “kursi” yang mampu membuat operator yang duduk di atasnya, merasakan dan sekaligus mengatur apapun manouver pergerakan sang wahana. Kemudian, inggris juga mengembangkan SUB-2 dan CONSUB-01, Skotlandia dengan ANGUS 001, Norwegia dengan SNURRE dan AL-perancis dengan ERIC. Generasi ROV untuk kepentingan komersial semenjak POODLE nya Rebikoff pada 1953, adalah kemunculan sepasang RCV-225 (Awalnya bernama RCV-125) yang diproduksi Hydro Product pada tahun 1975, dan disusul 26 kembarannya. RCV atau Remotely Controlled Vehicle, selanjutnya menjadi merk terdaftar milik HydroProducts, Tetra tech Company, Amerika Serikat.

Kehadiran ROV mampu membuat pekerja di dasar laut, sd 10,000 kaki, dalam rangka pengeboran minyak lepas pantai dan tugas lain, menjadi lebih mudah. Efektifitas teknologi ini, memungkinkan berbagai macam organisasi mulai dari kepolisian sampai dengan institusi akademis, mengoperasikan wahana ini dalam berbagai ukuran dan berbagai kepentingan. Dari kendaraan inspeksi kecil, sampai dengan penelitian dasar samudra. Kemampuan wahana inipun terus dikembangkan. Sebuah rekor, dicatatkan oleh lembaga Mitsui dan JAMSTEC di Jepang, yang membuat ultra-deep ROV Kaiko. Wahana ini dirancang untuk mencapai bagian terdalam dari samudra —the Challenger Deep di palung Mariana, sedalam 10,909 meter.

Note: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari empat tulisan tentang Wahana bawah air tanpa awak atau ROV. Ditulis sebagai bagian dari artikel teknologi untuk media informasi Perikanan dan Kelautan, BiRU.

Kenapa Hang Tuah menjadi tokoh bahari?

Written By Anonymous on Apr 17, 2012 | 10:00 AM

Tokoh Kelautan asal Melayu
Hang Tuah merupakan seseorang pahlawan dan tokoh legendaris Melayu pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka. Ia adalah seorang pelaut dengan pangkat laksamana dan juga petarung yang hebat di laut maupun di daratan. Pada masa mudanya, Hang Tuah beserta empat teman seperjuangannya, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu sering berjuang menumpas kejahatan.

Perdana Menteri Kerajaan Malaka mengetahui kehebatan mereka dan mengambil mereka untuk berkerja di istana. Semasa ia bekerja di istana, Hang Tuah membunuh seseorang petarung dari Jawa yang terkenal dengan sebutan Taming Sari, dari Kerajaan Majapahit.

Konon Taming Sari dikenal pandai berkelahi, kebal senjata dan dapat menghilang. Hang Tuah mempelajari, apa yang membuat Taming Sari sakti. Ternyata kesaktian itu terletak pada kerisnya. Hang Tuah pun berupaya merebut keris tersebut, dan berhasil, lalu membunuh Taming Sari dengan keris itu.

Suatu saat, Hang Tuah dituduh berzinah dengan pelayan Raja, dan di dalam keputusan yang cepat, Raja menghukum mati Laksamana yang tidak bersalah itu. Namun, dibantu oleh Perdana Menteri, Hang Tuah kabur ke sebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi.

Setelah mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah, Hang Jebat, murka. Dia mengamuk di kawasan kerajaan dan mengambil keris Taming Sari.

Raja menyesal menghukum mati Hang Tuah, karena dialah satu-satunya yang dapat diandalkan untuk membunuh Hang Jebat. Diam-diam Perdana Menteri memanggil kembali Hang Tuah dari tempat persembunyiannya. Raja membebaskan tuduhan ke Hang Tuah.

Hang Tuah pun meminta keris itu baik-baik ke Hang Jebat, namun justru Hang Jebat takabur dan melawan Hang Tuah. Karena kehebatan Hang Tuah, keris itu kembali dapat direbut dan ditusukkan ke Hang Jebat hingga tewas.

Setelah teman seperjuangannya gugur, Hang Tuah menghilang dan tidak pernah terlihat kembali. Sumpah yang terkenal dari Hang Tuah adalah “Tak akan Melayu hilang di dunia” yang berarti bangsa Melayu tidak akan pernah punah.

Kehebatan Hang Tuah, menginspirasikan masyarakat untuk tetap mengabadikan namanya. Selain digunakan untuk nama jalan, namanya juga dikaitkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan bahari.



*Dari berbagai sumber

Keterpurukan nelayan Amerika ternyata sejak 2001

Written By Anonymous on Apr 10, 2012 | 9:58 AM


Kebijakan ugal-ugalan di AS sebabkan overfishing


Disarikan dari pidato Federasi Asosiasi Nelayan Perairan Pasifik (PCFA) pada 1 Novermber 2001, yang ditulis oleh Pietro Parravano, Glen Spain, dan Zeke Grader.


Banyak nelayan Amerika tidak lagi merasa aman mengenai nasib mereka, karena kegiatan eksploitasi ikan yang tanpa batas, yang telah berlangsung di berbagai belahan bumi. 


Sebagai masyarakat nelayan, kami seperti telah dikepung, tidak hanya di Amerika Serikat atau Amerika Utara, namun di seluruh dunia. Banyak stok ikan yang habis karena penangkapan yang berlebihan, sebagian besar karena promosi pemerintah bagi armada-armada dalam melakukan eksploitasi "tak terbatas" terhadap sumber daya laut. Bahkan mengeksploitasi spesies hewan laut langka.


Courtesy : Myseek.com
Sekarang kita membebankan kesalahan tersebut kepada pemerintah, karena telah memberi subsidi berlebih, kepada pemilik kapal ikan untuk mengeksploitasi ikan habis-habisan. 


Jauh lebih buruk, pemerintah ternyata secara langsung telah sering berpartisipasi dalam membiarkan kehancuran stok ikan, melalui pembangunan dan pengoperasian bendungan serta pengalihan air. Alhasil, mereka telah mendorong perusakan habitat ikan, mencemari sungai, teluk, dan perairan dekat pantai laut. 


Berlindung dibalik budidaya


Pemerintah juga telah mendukung dan mempromosikan banyak operasi budidaya perairan dengan mengorbankan para nelayan dan merusak lingkungan. Mereka mendorong kesepakatan perdagangan, namun merusak konservasi dan komunitas nelayan mereka sendiri.


Akibatnya, muncullah dua golongan nelayan budidaya; para budidayawan yang bekerja untuk kelestarian ikan dan budidayawan yang hanya mengejar untung namun menghancurkan stok ikan. 


Hal ini sebenarnya telah mengundang kritik yang tak henti-henti dari beberapa ilmuwan dan LSM; agar memperjelas kepada publik mengenai 'jenis' nelayan tersebut. Namun yang terjadi hingga kini ialah pemerintah memposisikan semua nelayan sebagai sasaran kambing hitam yang paling empuk. Tujuannya, supaya pemerintah mendapatkan penghargaan atas programnya.


Kita, komunitas nelayan Amerika, sebagai sebuah industri tidak harus menanggung beberapa kesalahan atas 'penyakit' tersebut. Keserakahan pemerintah serta ketidakmauan untuk mendengarkan ilmu pengetahuan, telah membawa kita ke dalam kesulitan berkali-kali. Mengancam stok beberapa hewan laut. 


Kami pun akan diam diri ketika ikan-ikan mulai menipis dan banyak yang sengsara karenanya. Masalah seperti ini kami yakini bukan hanya di Amerika, namun juga diberbagai negara maritim lainnya.


Sumber : http://www.pcffa.org

Jumlah nelayan di Indonesia kian menciut

Written By Anonymous on Apr 9, 2012 | 5:18 PM

Lebih suka di darat

Sebuah media nasional mengabarkan hal ironis tentang jumlah nelayan tradisional di Manado, yang  turun drastis dari angka 30.000 -pada dekade 1980-an- menjadi 3.000 orang saat ini. Profesi nelayan nampaknya sudah semakin terpojok, ditengah hingar bingar target pemerintah. 


Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan target ekspor udang senilai US$ 7 miliar, pada 2014 mendatang. Sementara tahun lalu, realisasi ekspor udang baru mencapai US$ 3,2 miliar. Hal tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo di Jakarta, Kamis (5/4). Selain meningkatkan ekspor, menurutnya, udang juga menjadi komoditas unggulan yang banyak menyerap tenaga kerja. 


Sementara dari Pekalongan, Jawa Tengah, setidaknya 264 Ha lahan pertanian dijadikan tambak, setelah produktifitasnya menurun tajam karena sering terkena rob. Alih fungsi lahan tersebut salah satunya untuk menggenjot produksi rumput laut sampai dengan 5,1 juta ton (naik 18,6% dibandingkan tahun lalu sebanyak 4,3 juta ton). Belum lagi upaya ngangsu ilmu budidaya tuna ke Port Lincoln, Australia, oleh team KKP yang dipimpin Anang Noegroho, Kepala Pusat Analisis Kerjasama Internasional dan Antar Lembaga.  


Nelayan Indonesia takut melaut, pedagang impor ikan


Semoga getolnya upaya budidaya perikanan di berbagai pelosok negeri, bukan berarti mematikan kiprah dan keberanian melaut nelayan Indonesia. Karena kalau keberanian nelayan Indonesia menciut, justru nelayan luar negeri yang menangguk untung. 


Misalkan saja, ketika KKP kembali menangkap dua kapal ikan berbendera Indonesia bermuatan ikan teri sebanyak 25,75 ton yang diduga berasal dari Malaysia, Sabtu (7/4). Ikan teri asal Malaysia tersebut diduga dipindahkan di tengah laut ke kapal berbendera Indonesia (transhipment) dan akan diselundupkan melalui Pelabuhan Kuala Tungkal Jambi. (The Ant)


Sumber:

http://www.bisnis.com/articles/ekspor-udang-digenjot-dengan-revitalisasi-135-dot-000-ha-tambak
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/05/11103114/Kementerian.Kelautan.dan.Perikanan.Belajar.Budidaya.Tuna.di.Australia
http://www.antaranews.com/berita/305338/kkp-amankan-2575-ton-teri-ilegal-asal-malaysia
http://industri.kontan.co.id/news/produksi-rumput-laut-di-pantura-dipacu
http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/04/08/87839/264-Ha-Lahan-Pertanian-di-Pekalongan-Jadi-Tambak
http://industri.kontan.co.id/news/kkp-target-ekspor-udang-us-7-miliar-di-2014
http://regional.kompas.com/read/2012/04/09/1248205/Ribuan.Nelayan.Manado.Jadi.Miskin.Karena.Pembangunan.Jalan.


Mengapa tak sarapan? Padahal sarapan itu penting


Lebih baik dikejar waktu, daripada dikejar penyakit


Banyak orang yang merasa enggan melakukannya karena beberapa alasan, apalagi para pekerja lapangan, misalnya diburu waktu agar tidak melewati kesempatan mendapat ikan-ikan gemuk di lautan.


Tahukah Anda apa yang terjadi ketika kita melewatkan sarapan? Inilah kemungkinan buruknya, dari segi fisik dan psikis:


1. Kita akan rakus saat makan siang karena kelaparan dan pada akhirnya pemilihan makanan pun tidak cermat. Selanjutnya masalah lain akan menanti, karena makanan yang tak selektif.


2. Rasa lapar mempengaruhi emosi. Yang terjadi selanjutnya adalah, emosi yang mudah meledak, sementara tubuh masih kekurangan sumber energi. Alhasil, kita menjadi mudah lelah dan labil dalam keseharian.


3. Menurut penelitian, kebiasaan tidak sarapan sebelum beraktivitas juga dapat mempengaruhi cara tubuh dalam menyimpan lemak. Ahli diet, Catherine Collings, menegaskan timbunan lemak akan meningkat dan kerja jantung tinggi.


4. Tubuh yang terasa lapar di pagi hari dapat memancing kita mencari cemilan, dan lama-lama ketagihan cemilan. Makanan kecil mengandung kadar glikemik (gula) tinggi, sehingga kadar gula tubuh pun terus di posisi atas.


5. Kebiasaan meninggalkan sarapan bukan membuat tubuh langsing, namun justru meningkatkan obesitas. Tidak percaya? Buktikanlah sendiri, dengan resiko yang ada.


Maka mari, mulai sekarang biasakan diri melakukan sarapan sebelum mengawali kegiatan apapun.


Sumber : American Journal Nutrition 2010

Sosial

a
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BiRU - Infomedia Perikanan dan Kelautan Terpilih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger