Secara pasti, kapan pertama kalinya kakek moyang Natsushima dilahirkan, tidak diketahui. Namun demikian, ada dua peristiwa yang secara umum “diyakini” sebagai cikal bakal ROV. Proyek PUV (Programmed Underwater Vehicle), yakni sebuah torpedo yang dibuat oleh Luppis-Whitehead Automobile di Austria pada tahun 1864, dan proyek POODLE, wahana yang dianggap sebagai kemunculan istilah ROV untuk pertama kalinya. Adalah Dimitri Rebikoff, WN perancis, yang pada tahun 1953, membuat wahana bawah air tersebut, dengan fungsi yang masih sangat terbatas untuk kepentingan riset arkeologi.
Selanjutnya, dalam kurun waktu 20 tahun kemudian (1953-1973), 20 wahana bawah air diproduksi oleh berbagai Negara (Amerika, Perancis, Inggris, Finlandia, Norwegia dan Uni Soviet). Jumlah ini bertambah pesat, ketika dalam kurun 1975-1978, 82 wahana bawah air beroperasi. Penyebab dari tumbuh pesatnya wahana ini adalah dikarenakan pada tahun 1974, Negara-negara penghasil minyak bumi yang tergabung dalam OPEC, meningkatkan harga minyak sampai tiga kali lipat. Sebagai akibatnya, gairah pengeboran minyak lepas pantai juga semakin meluap, dan membutuhkan wahana bawah air untuk melakukan survey bawah laut untuk menentukan kandungan minyak.
Bermula dari memesan system wahana bawah air berkamera dari New Jersey-based Vare Co. pada tahun 1957, Angkatan Laut Amerika Serikat selanjutnya mengembangkan teknologi ini untuk berbagai kepentingan, sehingga pada tahun 1958 menghasilkan CURV (Cable controlled Underwater Recovery Vehicle). Keberadaan dan kemampuan CURV ini masih misterius, walaupun dikabarkan bahwa US-Navy sudah memfungsikannya untuk menjinakkan 600 torpedo dan mendukung berbagai aktifitas bawah air lainnya. CURV baru dikenal dunia, setelah ekspose keberhasilannya menemukan bom atom yang sempat hilang di kedalaman 869m di selat Palomares Spanyol dalam kecelakaan pesawat tahun 1966. Jasa besar CURV masih tercatat, ketika pada tahun 1973, berhasil menyelamatkan kru pilot kapal selam Pisces III yang gagal mengambang, di selat Cork, Irlandia, tepat sesaat udara dalam kabin kapal selam habis. Dalam kurun waktu 1958 – 1974, U.S. Navy juga membuat dan mendanai pengembangan delapan ROV lain. Tiga adalah tambahan dan pengganti CURV pendahulunya, dimana yang lain dijadikan wahana untuk teknologi yang lebih lanjut. Dua diantaranya diberi nama TORTUGA dan ANTHRO, yang dibangun oleh Hydro Products, San Diego, California.
Perusahaan California tersebut, dengan pendanaan dari US Navy, mengembangkan TORTUGA, sebuah system wahana bawah air berkamera video, yang didesain sedemikian rupa untuk pemeriksaan jarak dekat pada suatu objek yang berada di wilayah perairan yang tidak bisa diakses manusia. Meskipun aplikasi wahana ini dalam kemiliteran tidak dipublikasikan, kuat dugaan bahwa model ini digunakan US Navy untuk melumpuhkan kapal selam. TORTUGA dibuat dengan pendorong jet air untuk tujuan kecepatan, dan versi lain menggunakan propeller untuk meningkatkan kemampuan maneuver dan responsifitasnya.
Wahana ANTHRO (anthromorphic) menyusul kemunculan TORTUGA. Masih dibuat oleh perusahaan dan sumber dana yang sama, ANTHRO dibangun dengan konsep pergerakan yang disinkronisasikan dengan gerakan kepala operatornya. Di kepala ANTHRO ada seperangkat kamera yang dihubungkan dengan monitor yang dihubungkan ke helm operator. Teknik “sepasang kepala” ini, membuat operatornya harus duduk di kursi yang bisa berputar, dan memakai helm berlayar TV 5 inci. Versi militer dari ANTHRO adalah SCAT (Submersible Cable-Activated Teleoperators) dan disusul dua wahana SNOOPY dengan konsep yang sama, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
Tak ketinggalan, Institut kelautan Uni Soviet, membuat CRAB-4000 pada tahun 1971, yang dibuat dengan menggunakan “kursi” yang mampu membuat operator yang duduk di atasnya, merasakan dan sekaligus mengatur apapun manouver pergerakan sang wahana. Kemudian, inggris juga mengembangkan SUB-2 dan CONSUB-01, Skotlandia dengan ANGUS 001, Norwegia dengan SNURRE dan AL-perancis dengan ERIC.
Generasi ROV untuk kepentingan komersial semenjak POODLE nya Rebikoff pada 1953, adalah kemunculan sepasang RCV-225 (Awalnya bernama RCV-125) yang diproduksi Hydro Product pada tahun 1975, dan disusul 26 kembarannya. RCV atau Remotely Controlled Vehicle, selanjutnya menjadi merk terdaftar milik HydroProducts, Tetra tech Company, Amerika Serikat.
Kehadiran ROV mampu membuat pekerja di dasar laut, sd 10,000 kaki, dalam rangka pengeboran minyak lepas pantai dan tugas lain, menjadi lebih mudah. Efektifitas teknologi ini, memungkinkan berbagai macam organisasi mulai dari kepolisian sampai dengan institusi akademis, mengoperasikan wahana ini dalam berbagai ukuran dan berbagai kepentingan. Dari kendaraan inspeksi kecil, sampai dengan penelitian dasar samudra.
Kemampuan wahana inipun terus dikembangkan. Sebuah rekor, dicatatkan oleh lembaga Mitsui dan JAMSTEC di Jepang, yang membuat ultra-deep ROV Kaiko. Wahana ini dirancang untuk mencapai bagian terdalam dari samudra —the Challenger Deep di palung Mariana, sedalam 10,909 meter.
Note:
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari empat tulisan tentang Wahana bawah air tanpa awak atau ROV. Ditulis sebagai bagian dari artikel teknologi untuk media informasi Perikanan dan Kelautan, BiRU.