Home » » Kisah unik Juragan Fulan dan Kang Dul

Kisah unik Juragan Fulan dan Kang Dul

Written By Anonymous on Mar 30, 2012 | 3:00 AM


Penulis cerita : Angiola Harry dan "The Ant"


Negara tempat tinggal si Fulan dan si Dul ialah sebuah negara kecil bernama Aferopasia. Makanan pokok dan utama disana adalah jus mangga. Maka mari kita lihat sepak terjang Fulan dan Dul.


Menuju investasi
Fulan punya kebun mangga yang luar biasa luas. Dia pun berniat bikin perusahaan jus mangga. Sayangnya, Fulan tidak mampu manjat pohon mangganya sendiri, apalagi mengolahnya jadi jus mangga, lha siapa yang mau manjat mengambil mangga untuk di jus? Akhirnya meminta menantunya yang tinggi besar, kuat, dan tegap bernama Dul. Dia meminta Dul melakukan apa yang direncanakannya, dan si Dul menyanggupi. 


Dimulai dengan memberi 'sangu' buat si Dul sebesar 224, 546 trilyun, Fulan memerintahkan Dul dengan kemampuan instingnya memilih mangga paling manis, memetiknya dan menyimpannya di gudang keramat. Bahkan untuk memperbanyak jumlah simpanan di gudang keramat, Fulan meminta Dul membeli mangga impor dari negara sebelah. Keluarlah lagi uang Fulan 149,887 triliun. 


Memasuki produksi
Lantas untuk bisa menjadi jus yang nikmat, si Fulan harus memodali Dul duit lagi. Tapi tiada masalah, toh Fulan ini duitnya tak pernah surut. Setelah diproses, jadilah 63 miliar liter jus mangga, dengan biaya per liter 566,- alias total modal Fulan untuk membuat jus mangga adalah 35,658 trilyun. Nah, total pengeluaran dompet si Fulan untuk membiayai kinerja Dul, terhitung 410,091 triliun! Sementara saat ditawarkan ke pasar, jus mangga Fulan cs hanya bisa laku hingga Rp 4.500,-


Masuk ke pasar
Doel tak gentar dengan harga yang dipatok rakyat, begitu pula Fulan. Mereka putuskan jual semuanya, dan hebat sekali, ternyata semua jus laku, dengan total pendapatan jualan Rp 283,5 trilyun. Tapi masalahnya, modal keluar dari si Fulan dan Dul adalah 410,091 triliun. Sehingga perusahaan si Fulan rugi Rp 126,591 trilyun dong?


Eh tapi tunggu, sebenarnya modal si Fulan kan cuma biaya bikin jus per liter 566,- (yang totalnya 35,658 trilyun) dan beli mangga impor 149,887 triliun. Sehingga total modal si Fulan real-nya 185,545 triliun. 


Soal biaya untuk 'sangu' si Dul beli mangga 224, 546 trilyun dari Fulan memang masuk hitungan pengeluaran perusahaan. Tapi dalam hitungan bisnis internal perusahaan, itu ialah modal absolut, yang kagak kudu beli di luar. Sementara pendapatan jualan 283,5 trilyun. Nah jadi keuntungan si Fulan sebenarnya adalah 283,5 trilyun - 185,545 triliun = 97.955 triliun!!


Si Fulan mau coba korupsi!
Psst tapi si Fulan bilang ke masyarakat, bahwa perusahaan dia dibikin rugi sama si Dul! Makanya dia mengungkapkan ke masyarakat bahwa perusahaannya memberi subsidi operasional atau apalah istilahnya sebesar Rp 126,591 trilyun. Tujuannya, supaya Fulan meyakinkan masyarakat, supaya harga jus mangga buatan dia wajar untuk dinaikkan. Waduh bang Fulan, jangan gitu dong, ngga jujur itu namanya bang... Aduh, macam mana ini?






Berikut kutipan simulasi analisis perjanjian di negara Aferopasia


Si Fulan yang mangganya bejibun ngga bisa metik dan nge-jus nih --> Fulan nyuruh si Dul berburu mangga --> biaya manjat dan bikin jus mangga, keluar dari kocek si Dul, yakni 400 juta --> Fulan harus NGGANTIIN duit si Dul --> si Dul jual hasil jus mangga dan dapet 1000 juta --> Nah! Fulan dapetnya segini nih:


1000 - 400 = 600 (kesepakatan prosentasenya 85 : 15) sehingga
85 persen dari 600 juta = 510 juta
sementara kontraktor (Dul) dapetnya 15 persen doang = 90 juta


Eitt.. Tapi kan duit kontraktor yang keluar duluan, udah digantiin Fulan, jadi bersih-bersihnya si kontraktor dapet 490 juta 




Skenario simulasi lebih lanjut (advance mode)


Jadi si Fulan nyuruh si Dul manjat dan panen mangga, lalu menjual keluar kampung (kalau dijual di kampung si Dul yang aslinya pujakesuma, padahal pohon magnga fulan kualitas Indramayu, negara Indonesia) pasti harganya lebih mahal. Tapi si Dul sudah diiket si Fulan tuh, selain konsesi 85-15, juga disuruh memasok kebutuhan mangga di kampung Fulan dengan jumlah tertentu.


Masalahnya aturan yang berbeda tuh yang bikin bingung. Antara proses manjat, panen manga, aturan bagi hasilnya, beda sama aturan nge-jus itu mangga.


Hitungannya kalau baca-baca materi; bukan dihitung rupiah dulu. Prosentase 85:15 itu adalah hasil produksi. Jadi kalau dapatnya 1 ton; 850 kilo buat Fulan dan 150 kilo si Dul. Masalah harga khan bisa beda. Dul bisa jual 150 mangga jatahnya di negara nun jauh disana dengan harga misalnya 75 ribu per kilo. Sementara si Fulan cuma bisa jual 5.000 per kilo di negaranya. Hasilnya khan jelas beda. 


Kalau dari hitungan 1 ton saja, dengan bagi hasil 85:15, si Dul dari negara nun jauh disana bisa kipas-kipas dengan pendapatan hingga angka 11.250.000, sementara si Fulan cuma Rp. 4.250.000 saja.


Tim BiRU




Nah kalau "cost recovery", ilustrasinya kayanya begini. Di tempat Fulan, di kebon rumahnya, mangga ibarat di hutan yang sangat luas. Mencari pohon mangga di hutan itu, si Fulan tidak sempat dan takkan mampu. Maka itulah dia meminta si Dulturun tangan. Namanya eksplorasi mangga, manjat, bekal nasi, bekal baju, logistik, dan sebagainya harus siap, dan kebetulan si Fulan nggak mau kasih ke Dul. Terpaksa semua keluar dari kocek si Dul sendiri. Tapi si Fulan mengingatkan, kalau sudah dapet pohon mangga yang paling banyak buahnya dan tidak habis dipanen selama 6 bulan, nanti sebagian ongkos buat nyari pohon mangga itu diganti oleh si Fulan. "Sebagian ongkos" itulah yang dibilang cost recovery.


Si Dul ini karakteristiknya adalah pemburu buah mangga. Hidungnya sudah bisa memilah mana mangga bagus, mana mangga busuk. Matanya terlatih melihat mana pohon mangga yang buahnya tidak berhenti waktu dipanen sampai berbulan-bulan, dan mana yang cuma sekali panen sudah tinggal daun thok.


Jagoan manjat pohon dengan cepat, tanpa terganggu semut rangrang yang galaknya minta ampun di pohon mangga sekaligus kebal gigitan ular pohon, apalagi jatuh dari pohon mangga juga sudah biasa, si Dul jadi kepercayaan Fulan. Lama-kelamaan si Dul kelihatan malasnya, karena terlalu dipercaya.


Akhirnya Fulan buka kesempatan untuk para pemburu mangga lainnya, dan didapatlah Partonas, Shelly, Totol, dan Bon Jor. Dilalah, keempat pemburu mangga ini lebih jago bisnis, sehingga dijual dengan harga lebih mahal, padahal rasanya ngga jauh beda. 


Dan dengan kesal bilanglah si Fulan ke masyarakatnya, "Ane mau naikin harga mangga nih. Soalnya biar harganya sama kaya negara yang di jual si empat pemburu baru itu," ungkapnya kesal.


Haduh om Fulan, kesalnya harusnya sama si Dul, dia harusnya transfer ilmu ke ente om Fulan.. Ente juga harus siap ditransfer ilmu, biar bisa mengolah sendiri, menekan biaya produksi dan lainnya, ya ngga?
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BiRU - Infomedia Perikanan dan Kelautan Terpilih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger