Home » » Natsushima di Samudra Nusantara

Natsushima di Samudra Nusantara

Written By Hitam Putih Blogger on Apr 2, 2012 | 1:24 AM


Pelan namun pasti, Natsushima mengendap di kedalaman laut perairan aceh, menelusuri rekahan lempengan benua dan biota laut di sekitarnya. Di kedalaman 7500m dari permukaan laut, natsushima bekerja bergantian dengan Magellan 825. Natsushima berasal dari jepang, sementara Magellan, asli kelahiran texas. Sementara itu, teman meraka, Okeanos, yang rumahnya di seattle, justru merayap pasti di dasar laut di kawasan Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara untuk merekam aktifitas gunung bawah air. Okeanos harus merayap dengan hati-hati, karena retakan batuan yang menyemburkan asap panas mencapai 200 sd 300 C, dan dikenal dengan nama lubang hidrotermal, dapat menyembur mengenai badannya setiap saat.

Natsushima, Magellan 825 dan okeanos, memang bukan manusia. Mereka adalah wahana bawah air tanpa awak atau yang secara ilmiah dikenal dengan sebutan remote operated vehicle (ROV). Mereka adalah robot bawah air yang “ditugaskan” mengungkap dan menyibak rahasia kehidupan di dasar perairan. Definisi ROV (Remotely Operated Vehicle) menurut Marine Technology Society ROV Committee's dalam "Operational Guidelines for ROVs" (1984) dan The National Research Council Committee's dalam "Undersea Vehicles and National Needs" (1996) adalah sebuah robot bawah laut yang dikendalikan oleh operator ROV, untuk tetap dalam kondisi yang aman, terutama dikala bekerja di lingkungan yang berbahaya.

Remote Operation Vehicle (ROV) mudah dikenal karena bentuk dan fungsi nya yang mirip kapal selam namun dalam ukuran mini. Kapal selam tak berawak ini dioperasikan dari kapal lain melalui kabel yang berfungsi juga sebagai penambat. Badannya merupakan susunan dari satu set pengapung besar terbuat dari busa sintetis, yang melekat di atas sasis rangka baja atau aluminium. Di bagian bawah konstruksi terpasang alat-alat sensor yang berat. Kombinasi dan peletakan komponen ringan di atas dan berat di bawah, menghasilkan pemisahan yang besar antara pusat apung dan pusat gravitasi. Akibatnya, wahana ini pun lebih stabil di dasar laut, sehingga dikenal piawai dalam melakukan maneuver yang tinggi saat melakukan tugas-tugasnya.
Kabel tambat berfungsi mengirimkan energi listrik serta data video dan sinyal. Saat bertugas memasang kabel-kabel listrik tegangan tinggi, ROV biasanya ditambahkan tenaga hidrolik. Sistem ROV terdiri atas vehicle (atau sering disebut ROV itu sendiri), yang terhubung oleh kabel umbilical ke ruangan kontrol dan operator di atas permukaan air (bisa di kapal, rig atau barge). Yang paling juga adalah sistem kendali, sistem peluncuran dan sistem suplai tenaga listrik maupun hidrolik. Melalui kabel umbilical, tenaga listrik dan hidrolik, juga perintah-perintah, atau sinyal-sinyal kontrol, disampaikan dari ruang kontrol ke ROV, secara dua arah. ROV dilengkapi dengan peralatan atau sensor tertentu seperti kamera video, transponder, kompas, odometer, bathy (data kedalaman) dan lain-lain tergantung dari keperluan dan tujuan surveinya.

Kebanyakan ROV dilengkapi dengan kamera video dan lampu. Kemampuannya bisa ditingkatkan dengan menambahkan sonar, magnetometer, kamera foto, manipulator atau lengan robotik, pengambil sampel air, dan alat pengukur kejernihan air, penetrasi cahaya, serta temperatur. Kabel-kabel ROV dilapisi dengan tabung penuh minyak agar terhindar dari korosi air laut. Alat pendorong dipasang di tiga lokasi agar menghasilkan kontrol penuh terhadap alat itu. Adapun kamera, lampu, dan lengan manipulator berada di bagian depan atau belakang. (The ant)

Red: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari empat tulisan tentang Wahana bawah air tanpa awak atau ROV. Ditulis sebagai bagian dari artikel teknologi untuk media informasi Perikanan dan Kelautan, BiRU.
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BiRU - Infomedia Perikanan dan Kelautan Terpilih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger