Home » » Sepak terjang lulusan fakultas perikanan (3)

Sepak terjang lulusan fakultas perikanan (3)

Written By Anonymous on Feb 28, 2012 | 9:57 PM


Alergi seafood? Ini sebabnya
(featuring Mulia - THP 36)

"Lautan termasuk sumber berbagai unsur kimia (salinitas), sehingga kandungan unsur kimia yang menyusun tubuh ikan laut pun lebih beragam dibanding yang hidup di darat (air tawar). Karena keragaman pakan mereka itulah, khasiat yang tersimpan dalam ikan laut lebih baik dari ikan air tawar. Namun di lain sisi, keragaman organisme di lautan bebas yang menjadi pakan ikan ini justru bisa memicu alergi, bagi sebagian orang.


Asthma and Allergy Foundation of America pada awal 2010 merilis fakta bahwa meski menjadi pemicu, seafood bukan penyebab alergi. Munculnya alergi secara umum karena tubuh bereaksi berlebihan saat mendeteksi zat makanan tertentu. Akibatnya, muncullah gejala alergi, berupa gatal-gatal, bercak merah di kulit, mual, pusing, dan sebagainya. 


Ahli pediatri yang juga Ketua American Academy of Pediatrics (AAP) Committee on Nutrition. Frank Greer mengatakan, sensitivitas ini kebanyakan terjadi pada anak-anak. "Karena sistim imun mereka masih sangat sensitif.Reaksi berlebihan bisa muncul saat mereka makan seafood karena tubuh mereka baru mengenal kandungan seafood, yang relatif sangat beragam dibanding sumber pangan yang lain,” ujar Greer. Dia menambahkan, kebanyakananak-anak mengalami alergi pada jenis seafood kelas moluska (tak bertulang belakang), misal kerang, cumi-cumi, dan udang, serta ikan bersisik besar. "




Oke sepertinya cukup latar belakang mengenai alergi pada makanan laut. Lantas apa pendapat eks anggota biRU (baca BiRU) tentang hal itu? Mulia Nurhasan, M.Sc akan menjelaskannya. 


Inilah penjelasan Mulia, langsung dari Coppenhagen, Denmark, kepada BiRU:


Moluska seperti udang, cumi-cumi, kerang, dan lainnya, serta ikan-ikan bersisik besar seperti kerapu, kakap, dan  teri, hidup di bagian permukaan laut dengan kedalaman maksimal 25 meter.Pada permukaan laut inilah berbagai unsur kimia, termasuk limbah, berserakan.


Hewan-hewan moluska yang hidup di lingkungan ini mengakumulasi mineral dan bahan kimia dalam tubuh mereka. Dalam jumlah berlebihan, mineral tertentu dapat memicu timbulnya alergi, bahkan keracunan atau penyakit lain. Cara hidup ini menyebabkan komposisi kimia tubuh moluska sangat beragam.


“Pada sebagian orang, sistem imun tubuhnya sangat sensitif sehingga terjadilah alergi ketika moluska itu dimakan,” ujar Mulia. “Begitu juga ikan pelagis yang hanya hidup di perairan dangkal. Ikan ikan ini lebih terekspos terhadap polusi air, sampah dan berbagai jenis limbah yang dibuang manusia ke perairan. Karena air, tempat hidup mereka tercemar, ikan pelagis menjadi lebih rawan tercemar.”


Pencemaran memang sangat merugikan. Baik perairan dangkal maupun dalam, semua terimbas oleh zat kimia berbahaya bawaan limbah tersebut. Tak terkecuali di perairan dalam, karena residu polusi. Lantas ikan seperti apa yang setidaknya lebih baik dari ikan pelagis? 


Mulia setuju, setidaknya carilah ikan yang cara hidupnya cenderung menjelajah, atau tidak diam di satu tempat. Mereka tidak doyan makanan seperti ganggang, alga, dan mikroorganisme lainnya yang dimakan moluska maupun ikan bersisik besar,  Namun tetaplah waspada, karena lautan kini tengah terancam!


NB:
Mulia kini tengah menyelesaikan studi doktoral (Ph.D.) di University of Copenhagen, Denmark. Semoga sukses Mulia!


Baca episode sebelumnya:
http://www.biru-online.co.cc/2012/01/sepak-terjang-alumnus-fpik-ipb-2.html
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BiRU - Infomedia Perikanan dan Kelautan Terpilih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger